Michel Lacroix, dosen dan peneliti di Universitas ?vry-Val d?Essonne, melukiskan zaman ini sebagai zaman pemujaan terhadap emosi. Homo sentiens (manusia sebagai makhluk emosional) menjadi ciri khas manusia abad ini. Tantangan riil bagi masyarakat dewasa ini adalah bagaimana memperlakukan emosi secara seimbang. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh semua orang dari pelbagai kalangan, termasuk mereka yang menjalani cara hidup khusus, seperti para imam dan religius. Pengembangan EI dalam panggilan imamat dan religius sebenarnya selaras dengan makna panggilan itu sendiri. Magisterium Gereja menjelaskan bahwa panggilan adalah sebuah dialog antara Allah yang memanggil dan manusia yang menjawab (PDV 36 ). Harapannya buku ini bisa menjadi salah satu sumber yang dipakai oleh para formator dalam mendampingi calon-calon imam dan religius. Salain itu, buku ini juga bisa menjadi rujukan bagi semua imam dan religius yang terus membina diri mereka untuk mejadi pribadi-pribadi yang secara emosional matang.
### Buku "Kecerdasan Emosional dalam Hidup Kaum Selibat Sebuah Tinjauan Formatif" ditulis oleh Agustinus L. Nggame, OFM dan diterbitkan oleh PT Kanisius. Buku ini dibagi ke dalam lima bab dan mencakup aspek-aspek penting tentang kecerdasan emosional dalam konteks kehidupan kaum selibat. Bab pertama membahas dasar-dasar teoritis emosi, mengulas pendapat para ahli tentang definisi dan arti emosi bagi kehidupan manusia. Bab ini juga menjelaskan proses kerja emosi, tipe-tipe emosi, serta hubungan emosi dengan tingkah laku manusia. Penulis berharap uraian ini dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang dunia emosi. Bab kedua mengeksplorasi fenomena "kultus terhadap emosi", di mana emosi menduduki peran istimewa dalam mengendalikan keputusan dan cara bertindak individu. Studi Michel Lacroix, seorang dosen dan peneliti dari Universitas Évry-Val d’Essonne, menunjukkan bagaimana manusia abad ini lebih cenderung menjadi homo sentiens atau makhluk emosional, mengabaikan keseimbangan antara akal budi dan emosi. Bab berikutnya menjelaskan pentingnya kecerdasan emosional bagi kematangan hidup para imam dan religius. Penulis menekankan bahwa pengembangan kecerdasan emosional harus diintegrasikan dalam program formasi atau pembinaan awal. Formandi, atau calon imam dan religius, harus dipersiapkan untuk mengenali dan mengelola emosi mereka dengan bijaksana, menghindari pengaruh negatif dari dorongan emosional yang berlebihan. Bab terakhir membahas tantangan riil dalam memperlakukan emosi secara seimbang. Penulis menunjukkan bahwa meskipun "kultus terhadap emosi" memberikan manfaat dalam mengatasi absolutisme rasionalitas, terlalu banyak mengandalkan emosi dapat membuat individu cenderung irasional. Buku ini menawarkan pemahaman mendalam tentang kecerdasan emosional dan bagaimana pengelolaan emosi yang tepat dapat membantu individu mencapai keseimbangan dalam kehidupan. Buku ini merupakan panduan yang mendalam dan relevan bagi kaum selibat, imam, dan religius dalam memahami dan mengembangkan kecerdasan emosional mereka.
Unduh untuk perangkat lain: