Ada dua tokoh sentral yang berperan penting dalam pertobatan Augustinus, selain teman-temannya. Kedua tokoh utama tersebut adalah ibundanya, Sta. Monika dan Uskup Ambrosius dari Milano, Italia. Uskup Ambrosius adalah bapak rohani Sta. Monika, dan seorang pengkhotbah ulung. Hati Aurelius Augustinus begitu tersentak ketika mendengarkan khotbah-khotbahnya. Karenanya, Aurelius Augustinus mengarahkan haluan hidupnya dari dunia glamor dan kekuasaan ke dalam hidup kontemplatif dan pengabdian kepada Kristus di dalam Gereja-Nya. Pengalaman perjalanan hidup pribadi Aurelius Augustinus ini kemudian menarik banyak orang sehingga mereka memutuskan untuk mengikuti semangat hidupnya. Setelah penyerbuan tentara Vandal ke Afrika Utara, para pengikut semangat hidup Aurelius Augustinus ini meneruskannya ke wilayah Toscana, Italia tengah. Di sana, kemudian tumbuh subur berbagai kelompok hidup kontemplatif dan eremit yang mengambil regula dan spiritualitas Aurelius Augustinus sebagai pedoman hidup mereka. Kelompok-kelompok ini kemudian dilebur oleh Paus Innocentius IV (1231) menjadi satu ordo, Ordo Santo Augustinus, hingga sekarang.
Buku "Santo Augustine Spiritualitasnya dan Cuplikan Sejarah Ordo Santo Augustine di Tanah Papua" oleh Bernardus Wos Baru, OSA, merupakan pemantaran spiritual dan sejarah singkat tentang seorang Santo Augustine dan Ordo Santo Augustine di Tanah Papua. Buku ini memulai perjalanannya dengan memperkenalkan Santo Augustine, filsuf dan teolog besar abad pertengahan, yang hidupnya adalah pencarian terhadap makna hidup yang sejati. Ia melalui berbagai fase dalam pencarian, termasuk fase pendidikan retorika di Kartago, hingga akhirnya menemukan kebenaran dalam Kristus. Dalam bagian sejarah Ordo Santo Augustine di Tanah Papua, buku ini juga menggambarkan bagaimana order ini berkembang di wilayah Papua, Indonesia. Dari pengalaman Pastor Bernardus Wos Baru, OSA, sebagai anggota order ini, dapat dilihat bagaimana ia mencari keseimbangan antara perjuangan spiritual dan kehidupan sehari-hari, serta bagaimana order Santo Augustine menciptakan komunitas (communio) antara saudara dan saudarinya. Buku ini tidak hanya menggambarkan perjalanan spiritual Santo Augustine, tetapi juga mengeksplorasi bagaimana pesan dan spiritualitasnya relevan dalam konteks modern, terutama dalam kehidupan komunitas Gereja dan masyarakat di Tanah Papua.
Unduh untuk perangkat lain: