Sejarah selalu dicatat rapi dan dikisahkan kembali oleh para pemenang. Tujuan pertamanya adalah mengenang perjuangan (memorial). Kedua, mempertahankan kemenangan (politik). Itulah historia docet! Dalam usaha mempertahankan kemenangan, orang mengais “napak-tilas” atas perjuangan yang pernah dilakukan. Di sana, tangis dan tawa diingat kembali; kecerdikan dan kecerobohan diunduh ulang. “History is the memory of thing said and done”, meminjam ungkapan Carl Becker. Semua memori itu diseduh kembali demi menyatukan emosi dan spirit bertahan: menjaga serta mempertahankan apa yang sudah diraih. Cukup berat memang! Tetapi atas dasar itulah sejarah (kemenangan) menjadi penting. Sejarah kemenangan tentu memuat kenangan. Bukan itu saja, sejarah itu berisi harapan. Dari sejarah, orang ingin melihat masa depan. Kadang, sejarah itu bisa terulang kembali. Semua tragedi yang pernah terjadi lantas menjadi lelucon dalam kenangan. “L’histoire se répète, tout d’abord comme une tragédie, après comme une farce”, kata filsuf Karl Marx. Tetapi kisah yang sama tak mungkin terjadi lagi. Kisah dalam selalu bersifat einmalig, meskipun maknanya dapat diingat dan diungkap lagi. Karena itu, selalu ada historical value dan historical fact. Sebagai fakta, sejarah bersifat original. Sebagai nilai, sejarah itu berisi pikiran-pikiran. C. P. Scott menyebutkan, “fakta itu sakral, opini itu bebas”.
Unduh untuk perangkat lain:
Jadilah yang pertama memberikan ulasan!
Bukunya bagus banget!
Lorem ipsum dolor, sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquam nulla iusto repellat qui, soluta laborum deserunt quis veritatis reprehenderit sint assumenda natus officiis! Nesciunt nisi eius rem dolor placeat consectetur.
Isinya daging semua cuy! Recomended.