Tokoh dan tutur cerita ini khayalan semata. Demi penguatan karakter, sengaja meminjam tokoh historis sesuai perilaku dan sikap berdasarkan kenyataan hidup mereka. Surat-surat dan puisi kiriman Robert Wolter Mongisidi (biasa dipanggil Bote oleh keluarga dan para sahabatnya) menjadi inti peristiwa. Cerita ini berkisah di masa Wolter dalam tahanan di Tangsi Kist, menjelang vonis pengadilan kolonial di Paccinang, Makassar. Sebuah drama kehidupan tentang seorang permuda bertumpuk keberanian yang bercampur keyakinan. Menolak kesempatan grasi, Bote menikmati jelang eksekusi mati. Menghitung hari, ia banyak menulis puisi. "Jalankan kewajiban kalian, tembaklah yang benar," pinta Bote.
### --- Surat Surat dari Sel Maut adalah karya fiksi yang menawarkan perjalanan seorang pesepeda melalui pemandangan pantai yang memukau, mencerminkan perjuangan dan pemikiran para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia di Sulawesi Selatan. Dalam buku ini, penulis, Yudhistira Sukatanya, menggabungkan narasi pribadi dan cerita sejarah, menggambarkan persahabatan yang mendalam dengan kerabat dan teman-teman di berbagai forum diskusi sastra. Isi surat-surat yang diterima dari Opsir Yustisi di kantor Raad Van Justitie Makassar menjadi inti narasi, menyisipkan puisi dan tulisan-puisi lain yang diterjemahkan secara fiktif. Sinematik alam pantai, pertarungan antara pesepeda dan ombak, serta dialog mendalam antara penulis dan kerabatnya, menciptakan atmosfer yang mendalam dan penuh makna. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Garis Khatulistiwa dan merupakan dedikasi penuh kepada keluarga pejuang kemerdekaan dan teman-teman penulis yang mendukungnya dalam proses kreatif. --- Simpul ini dirumuskan berdasarkan konteks yang diberikan, mencerminkan atmosfer dan nuansa buku yang mencampuradukkan elemen fiksi, sejarah, dan narasi pribadi.
Unduh untuk perangkat lain: