Lambang kota yang berupa pertarungan antara ikan hiu atau sura dengan buaya ternyata sangat manarik bagi pengarang sehingga merasa terdorong untuk mengkajinya lebih lanjut. Lambang tersebut didasarkan pada sebuah cerita rakyat yang populer selama berabad-abad, sebuah dongeng yang sebenarnya mempunyai kaitan dengan kejadian-kejadian bersejarah di masa lalu. Jadi, benarkah penafsiran populer bahwa sura berarti berani, dan baya berarti bahaya sehingga Surabaya menyandang makna: berani terhadap bahaya? Pertanyaan tersebut akan terjawab dalam buku ini. (Balai Pustaka)
### Buku Buku ini menggali sejarah dan makna nama kota Surabaya melalui lensa mitos, khususnya mitos Cura-Bhaya. Dalam penelitiannya, penulis mengungkapkan latar belakang dan interpretasi kultural dari lambang kota Surabaya yang melambangkan pertarungan antara ikan hiu dan buaya. Penulis mencoba memahami asal-usul nama Ç?rabhaya, ejaan kuno Surabaya, dan bagaimana mitos ini mempengaruhi perkembangan kota yang menjadi ibukota provinsi Jawa Timur. Dengan mengikuti "cara berpikir" pendahulu, penulis memperjuangkan pemahaman tentang alam pikiran manusia zaman dahulu yang masih dipengaruhi oleh mitos. Penelitian ini menunjukkan betapa kuatnya mitos dalam budaya Indonesia dan bagaimana pantulan tersebut masih terlihat dalam upacara tradisional modern. Buku ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang sejarah Surabaya dan peran mitos dalam membentuk identitas kota. Demikianlah rangkuman singkat isi buku ini yang berupaya memahami dan membenahi mitos Cura-Bhaya sebagai sejarah kota Surabaya. Semoga ini dapat menjadi sumbangan yang berarti bagi pembaca yang ingin lebih memahami sejarah Surabaya dan bagaimana mitos mempengaruhi identitas kota.
Unduh untuk perangkat lain: