Karena merasa bahwa bumi tempatnya berpijak adalah tanah airnya sendiri yang telah menghidupinya selama ini, maka Hartanto, seorang pemuda Cina, kawin dengan gadis dusun setempat. Perkawinan ini ditentang oleh orang tuanya yang masih berusaha membentuk kelompLayak sendiri. Tapi, Hartanto nekat, sambil terus berupaya dan berjuang untuk menyadarkan orang tuanya yang berwawasan keliru itu. Kini sudah bukan masanya lagi untuk hidup menyendiri, pikirnya. Balai Pustaka
singkat buku ini dapat disajikan sebagai berikut --- Dalam kisah ini, Hartanto, seorang pemuda Cina, mengalami perjuangan personal yang mendalam ketika dia memilih untuk menikah dengan gadis dusun setempat, Surtilah, meskipun dia mendapat tentangan dari orang tuanya. Hartanto, yang juga dikenal dengan nama Hwie Ging, pindah ke dusun Sumberpucung dan tinggal bersama mertuanya, Pak Kasan, di mana dia mendapat pelatihan bertani dari mereka. Sikap kerukunan dan kegotong-royongan masyarakat dusun tersebut membekaskan Hartanto dan membuat dia merasa nyaman di sana. Setelah menikah dengan Surtilah, Hartanto terus belajar dan mempraktikkan bertani, terutama dalam pemanenan vanili. Dia mendapat dukungan dari istrinya dan penduduk setempat yang menerima dia tanpa mempedulikan latar belakang etnis. Hartanto merasa senang menjadi bagian dari masyarakat dusun, bahkan hingga dia mengingat sejarah masa lalu tempat dia menetap. Kisah ini menggambarkan perjuangan Hartanto dalam mencari kedamaian dan pengakuan dalam masyarakat lokal, sambil tetap mempertahankan cinta dan penghargaannya kepada istrinya. Cerita ini juga menggali isu-isu tentang pengakuan sosial, etnis, dan integrasi dalam masyarakat yang beragam. --- Pesan utama kisah ini adalah tentang bagaimana perjuangan Hartanto dalam menemukan tempat yang tepat dalam masyarakat, dan bagaimana dukungan dari istrinya dan masyarakat setempat membantu dia dalam proses tersebut.
Unduh untuk perangkat lain: