Bapak sudah biasa marah-marah, dan untuk bisa marah tidak perlu alasan besar. Alasan sepele pun cukup membuatnya begitu. Sepertinya sebutan marah kurang cocok, karena menurutku yang dilakukan bapak lebih dari itu. Lebih mengarah ke murka. Dalam kemurkaannya, apa pun bisa dibuatnya berantakan, bahkan untuk melampiaskannya, bapak tak segan menendangku, juga kepada ibu. Saking terbiasa, aku sudah tidak heran dan kaget saat mendapati bapak murka, tetapi ular yang bersarang dalam kepalaku tidak begitu
### Buku Buku ini mengisahkan petualangan seorang anak yang bernasib tragis, yang hidup dalam ketakutan karena ular yang bersarang di kepalanya. Mengawali cerita dengan kehidupan rumah tangga yang dipenuhi kekerasan, bapaknya yang sering marah dan murka menjadi penyebab hembusan cemas di setiap hari anak tersebut. Bapaknya dipindahkan kerja ke Lampung, sebuah tempat diharapkan bisa menjadi pelajaran dan pengubah nasib. Namun, perpindahan tersebut tidak seefektif yang diharapkan. Anak tersebut merasa lega karena ular di kepalanya jadi teman yang membantu, memberikan energi positif dan membuatnya menjadi lebih kuat. Namun, ketika kembali ke tempat asal, anak tersebut menemui pengalaman yang mengejutkan. Ternyata, ular di kepalanya justru berubah menjadi musuh, menyebabkan dia terlibat dalam konflik dengan sahabat lama, yang menganggapnya aneh dan bahkan mengundang kekerasan. Seiring berjalannya waktu, ibunya bercerita tentang masa lalu di desa Lampung, tempat pertama kali bapaknya bekerja. Ibu mengungkapkan bahwa desa tersebut memiliki falsafah hidup bermasyarakat yang baik, yang mungkin bisa menjadi harapan bagi anak tersebut. Namun, pengalaman di tempat asal yang penuh dengan perundungan dan kekerasan membuat anak tersebut merasa ragu. ini mengekspos konflik antara ketakutan dan harapan, serta bagaimana lingkungan dan interaksi sosial mempengaruhi kehidupan sehari-hari.
Unduh untuk perangkat lain: