Kaba Puti Sari Banilai adalah sebuah cerita klasik Minangkabau. Kaba ini mengisahkan satu keluarga yang berasal dari Hindustan yang menetap di sebuah negeri yang bernama Bukik Jambu. Anak tunggalnya yang telah bertunangan dari kecil di kampungnya mangkir janji dan menikah dengan pemuda asli tempat dia menentap. Karena putri ini sudah mengadakan sumpah yang disaksikan oleh keluarga masing-masing tidak akan saling mengubah janji maka dia sendiri mendapat musibah yaitu berubah menjadi batu.
Buku "Kaba Puti Sari Banilai" merupakan cerita klasik Minang yang mengisahkan petualangan Puti Sari Banilai, putri dari Maulana Karim dan Puti Sari Banun, yang berasal dari kerajaan Hindustan. Cerita ini memulai perjalanan dengan keinginan Puti Sari Banilai untuk pergi ke Pulau Patamuan, yang pada akhirnya diwujudkan dengan perjalanan menggunakan perahu layar. Namun, perjalanan tersebut terhenti ketika datang angin kencang yang diiringi kilat dan petir. Melalui nasihat orang tua mereka untuk berdoa dan menyerahkan diri kepada Allah, cuaca mulai membaik dan mereka terdampar di Bukit Jambi. Di sana, Puti Sari Banilai bertemu dengan Rambun Podeh, seorang pemuda yang juga rajin mengaji. Hatinya tertarik pada Rambun Podeh, namun ia merasa ragu karena bukan penduduk asli kampung tersebut. Perasaan dan kebingungan Sari Banilai tersebut kemudian diiringi oleh perubahan pikiran Rambun Podeh, yang mulai tergoda pada Sari Banilai dan mengalami penurunan perhatian pada pengajian. Imam Mulia, seorang gurunya yang bijaksana, mengetahui perubahan ini dan mencoba membantu Rambun Podeh. Di antara petualangan dan perjuangan cinta, cerita ini juga mengandung pelajaran tentang kepercayaan dan ketahanan di hadapan tantangan.
Unduh untuk perangkat lain: