Dewasa ini kesadaran dari putra-putri komponen anak bangsa mulai terkikis dan teralihkan ke visual digital pesawat genggam, budaya dan alam Nusantara yang seharusnya dilestarikan dan dijaga, menunjukkan indikasi ke arah yang semakin menurun. Bangsa Indonesia merupakan negara dengan beragam budaya dan kekayaan alam, budaya-budaya lokal yang ada di Nusantara muncul dan eksis terlebih dulu, sedangkan budaya bangsa muncul setelahnya. Kekayaan budaya dan Alam Nusantara ini menjadi situs budaya leluhur yang bernilai tinggi dan wajib diwariskan ke setiap generasi Bangsa. Dengan demikian, sudah seharusnya sebagai generasi Bangsa wajib menjaga dan melestraikannya supaya Budaya dan Alam Nusantara tersebut menjadi situs turun temurun bagi Bangsa ini. semoga menginspirasi bagi kita semua, salam literasi.
Buku Dewasa ini, kesadaran putra-putri komponen bangsa mulai terkikis dan teralihkan ke visual digital pesawat genggam. Budaya dan alam Nusantara yang seharusnya dilestarikan dan dijaga, menunjukkan indikasi ke arah yang semakin menurun. Bangsa Indonesia merupakan negara dengan beragam budaya dan kekayaan alam, di mana budaya-budaya lokal muncul dan eksis terlebih dahulu, sementara budaya bangsa muncul setelahnya. Dengan demikian, sudah seharusnya generasi bangsa menjaga dan melestarikannya supaya Budaya dan Alam Nusantara menjadi situs turun-temurun bagi bangsa ini. Buku ini menggambarkan kisah Sisi, seorang siswa yang menunjukkan pengetahuan luas tentang kebudayaan Mataram. Sisi dikenal di kelasnya karena kepiawaian dalam menjawab pertanyaan soal kebudayaan, termasuk pakaian adat lambung yang berasal dari suku Sasak dan dipakai oleh wanita untuk menyambut tamu. Tari oncer, tarian daerah suku Sasak, juga merupakan bagian dari kebudayaan Mataram yang diketahui oleh Sisi. Alat musik gendang beleq, yang dimainkan berkelompok dan berasal dari suku Sasak, juga menjadi bagian dari kearifan lokal Mataram. Kisah Sisi melanjutkan ke Nusa Tenggara Barat untuk mengikuti lomba kebudayaan, di mana dia memperkenalkan gendang beleq kepada penonton. Sisi berangkat ke Nusa Tenggara Barat untuk mengikuti lomba kebudayaan dan menemui monumen Bumi Gora, yang berdiri di area Taman Budayan. Monumen ini dianggap bentuk keberhasilan Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam menanam padi gogo rancah, yang tergambarkan pada relief monumen tersebut. Buku ini merupakan upaya untuk mengingatkan pentingnya melestarikan budaya dan alam Nusantara, serta menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat menjadi warisan turun-temurun bagi bangsa ini. Semoga buku ini dapat menginspirasi kita semua untuk lebih memahami dan melestarikan warisan budaya Mataram. Salam literasi. --- Buku Dalam buku "Jogar Sauma Purinusa, Dian Mardianto," penulis menggambarkan kisah Sisi, seorang siswa yang menunjukkan pengetahuan luas tentang kebudayaan Mataram. Sisi dikenal di kelasnya karena kepiawaian dalam menjawab pertanyaan soal kebudayaan, termasuk pakaian adat lambung yang berasal dari suku Sasak dan dipakai oleh wanita untuk menyambut tamu. Tari oncer, tarian daerah suku Sasak, juga merupakan bagian dari kebudayaan Mataram yang diketahui oleh Sisi. Alat musik gendang beleq, yang dimainkan berkelompok dan berasal dari suku Sasak, juga menjadi bagian dari kearifan lokal Mataram. Kisah Sisi melanjutkan ke Nusa Tenggara Barat untuk mengikuti lomba kebudayaan, di mana dia memperkenalkan gendang beleq kepada penonton. Sisi berangkat ke Nusa Tenggara Barat untuk mengikuti lomba kebudayaan dan menemui monumen Bumi Gora, yang berdiri di area Taman Budayan. Monumen ini dianggap bentuk keberhasilan Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam menanam padi gogo rancah, yang tergambarkan pada relief monumen tersebut. Buku ini mengingatkan pentingnya melestarikan budaya dan alam Nusantara, serta menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat menjadi warisan turun-temurun bagi bangsa ini. Semoga buku ini dapat menginspirasi kita semua untuk lebih memahami dan melestarikan warisan budaya Mataram. Salam literasi.
Unduh untuk perangkat lain: