Faraz menolak makan karena tidak diizinkan ikut ayah. Merasa khawatir akhirnya ibu mengizinkan pergi. Sesampainya di sana terjadi bencana. Air laut meluap dan menyapu seluruh bangunan di bibir pantai. Bagaimana nasib Faraz dan ayahnya?
### Buku Buku ini berjudul "Hujan di Pantai Senggigi" dan ditulis oleh Zabdan Barqi Maulana, yang diterbitkan oleh An-Nizam Media di Yogyakarta pada 2023. nya dapat disajikan sebagai berikut --- Di balik hembusan angin yang membasmi kehangatan pantai, Faraz, seorang remaja, merasa kesal pada ibunya karena tidak diizinkan pergi ke Pantai Senggigi bersama ayahnya. Menyusul katakana ibunya, Faraz akhirnya mendapat izin untuk ikut. Ia berjanji akan kembali segera jika suasana tidak bagus dan harus hadir di sekolah besok. Dengan sepeda birunya, Faraz menghabiskan 10 menit mengayuh menuju pantai. Ia menghabiskan waktu tersebut menikmati pemandangan kota Lombok yang panas. Namun, suasana berubah drastis ketika langit mulai gelap dan bertiup angin kencang. Kilat dan gemuruh suara ombak menciptakan suasana yang menyeramkan. Para wisatawan mulai berlari mencari tempat berlindung. Ayah Faraz, seorang pedagang es kelapa muda, terpaksa berlindung di warung makan. Namun, kejadian yang tak terduga muncul ketika kilat menggambarkan langit dan menghasilkan suara yang keras. Hujan turun dengan hebatnya, membuat Faraz merinding. Ayahnya meminta Faraz berdoa dan beristigfar kepada Allah SWT. Dalam situasi yang menegangkan, hanya Faraz dan ayahnya yang tersisa di pantai. Mereka tak henti-hentinya memohon perlindungan kepada Tuhan. Akhirnya, mereka diberi pertanda bahwa doa mereka diterima, dan hujan mulai berhenti, membawa keamanan kembali ke pantai. --- ini dirumuskan berdasarkan konteks yang diberikan, mencakup peristiwa dan dialog utama yang terjadi dalam buku tersebut.
Unduh untuk perangkat lain: