Aku menulis air mata yang masih kaubaca Walau tak satu aksara pun mampu melunakkan rasamu Harmoni stanza yang selalu kunyanyikan Masih kaudengar dalam diam yang menyakitkan Karena aku adalah untaian yang terangkai nyata Pada kanvas yang kausadai pada dinding jingga Yang kaurobek paksa tanpa bisa kujahit kembali. Air mataku adalah diksi lirih yang harus kaupahami Meski rimanya tak lagi sempurna di telingamu Eufoni luka yang sumbang mengunci persebatian jiwa kita Masai memburai bersama melodi yang kau hadirkan Aku terpaksa menikmati perihnya Aku membaca air mata di matamu ketika ombak terakhir tiba menggulung nada-nada suci yang semakin sumbang Dan perahu yang kita tumpangi merapat di pelabuhan Lalu kita meninggalkannya dan berpisah di persimpangan.
Berikut adalah sinopsis singkat buku "Eufoni Kumpulan Puisi" yang cocok untuk cover belakang --- Eufoni Kumpulan Puisi Dalam halusnya warna senja, Mas Sitti Sya mengungkapkan rindu, kekecewaan, dan kebahagiaan melalui kumpulan puisi yang mengena. Mulai dari "Sepenggal Senja" hingga "Tak Sudah Sudah," setiap puisi mengajak pembaca merasakan perjalanan emosional yang mendalam. Buku ini juga mencakup puisi yang lebih ringkas dan personal, seperti "Puih" dan "Puisi Rindu," yang mengeksplorasi berbagai aspek kehidupan dengan nada yang beragam. Dengan rangkaian puisi ini, Mas Sitti Sya membawa kita pada perjalanan kreatif dan emotif, mengeksplorasi keindahan bahasa dalam mengekspresikan perasaan terdalam. --- ini merangkum beberapa puisi utama yang disebutkan dalam daftar isi dan memberikan gambaran umum tentang isi buku tersebut.
Unduh untuk perangkat lain: