Babad Dipanegara ditulis oleh Pangeran Dipanegara yang bergelar Kanjeng Sultan Abdul Hamid Herucakra, tentang perjuangannya melawan penjajah
Babad Dipanegara merupakan karya sejarah yang ditulis oleh Pangeran Dipanegara sendiri pada masa pengasingannya. Naskah ini dirawat dengan cermat oleh tim penerjemah yang berwenang, termasuk Gunawan, Apriyanto, Nana, Yeri, dan Isidora, sehingga tetap mempertahankan nuansa bahasa sumbernya. Karya ini mencakup perjuangan Pangeran Dipanegara dalam menentang penjajahan Belanda di Jawa pada awal abad ke-19, dengan menggabungkan upaya politik dan militer. Teks berbahasa Jawa yang diterjemahkan mempertahankan makna kiasan, mencerminkan budi pekerti Pangeran Dipanegara sebagai sosok yang sederhana namun tegas dalam perjuangannya untuk keadilan dan kedamaian di tanah Jawa. Babad ini tidak hanya menjadi warisan budaya Indonesia yang berharga, tetapi juga merupakan sumber sejarah penting bagi pemahaman tentang perjuangan nasional awal. Perjuangan Pangeran Dipanegara melawan penjajahan tercatat dengan detail, mencakup upayanya menggandeng berbagai kelompok sosial untuk membentuk laskar yang kuat. Perang Jawa pada tahun 1825-1830 menjadi puncak perjuangan ini dan dianggap sebagai bagian dari Memory of the World (MoW) oleh UNESCO. Karya ini dilindungi hak cipta berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014. Cetakan pertamanya diterbitkan pada tahun 2016 di Yogyakarta oleh Penerbit Narasi, dengan ukuran buku 15 x 23 cm dan berisi 678 halaman.
Unduh untuk perangkat lain: