hir dari imaji-imaji yang berkeliaran, juga lahir dari realitas-realitas sekitar yang diwarnai dengan khayal. Kata-katanya; kadang kaku walau tidak beku, kadang cair meskipun tidak mencair. Ia selalu hadir dalam lintasan senjarah, menjadi juang walau tidak pernah berjuang, menjadi senjata walau tidak mampu mematikan, atau hanya menjadi teman dalam sepi bagi yang selalu merasa kesepian.
### Buku puisi "Laki-Laki Purnama dan Bintang Kejora" oleh Adinda Fredy Wahyu Singgih merupakan kumpulan syair yang mencerminkan perjuangan, cinta, dan rindu seorang remaja. Diterbitkan oleh Akademia Pustaka Tulungagung, buku ini menghadirkan 163 halaman puisi yang dipenuhi dengan nada-nada emosional dan estetika sastra. Adinda Fredy, berusia 17 tahun ketika menulis kumpulan syair ini, telah berhasil mempersembahkan karya yang mendalam dan penuh makna. Puisinya mencakup berbagai tema, mulai dari cinta sejati hingga refleksi perjuangan kehidupan, dengan gaya bahasa yang tajam dan empati tinggi. Buku ini menjadi sebuah bukti nyata bahwa menulis sastra puisi memerlukan usaha keras dan keterampilan unik. Adinda Fredy telah mengambil langkah besar dalam dunia sastra meskipun masih berada di awal perjalanannya, membuktikan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berkarya. Penghargaan yang diberikan kepada Adinda Fredy oleh penulis buku ini mencerminkan apresiasi tinggi terhadap usahanya. Dalam sinopsis singkat ini, kita dapat merasakan semangat dan dedikasi Adinda Fredy dalam mengekspresikan pemikiran dan perasaannya melalui puisi. --- di atas merupakan rangkuman dari konteks yang diberikan, mencakup tujuan buku, tema utama, usia penulis saat menulisnya, serta apresiasi yang diterima.
Unduh untuk perangkat lain: