Proyek revitalisasi kawasan alun-alun dan city-walk Jalan Ahmad Yani Kota Tegal menimbulkan kontroversi dan anekdot. Setelah jadi, kawasan alun-alun malah sering ditutup dengan alasan pandemi Covid-19 atau karena akan dijadikan area pejalan kaki.Warga setempat merasa terpenjara dan protes. Toko-toko dan pedagang rugi miliaran rupiah. Proyek city-walk Jalan Ahmad Yani dianggap lebih aneh lagi. Jalan yang sudah lebar malah dipersempit.
### Buku Buku ini berfokus pada peristiwa dan fenomena yang terjadi di kota Tegal, khususnya seputar Jalan Pancasila. Tulisan-tulisan pendek dengan gaya satire yang viral, yang diterbitkan secara bertahap di grup-grup WhatsApp, menjadi inti dari bab utama buku ini (Bab IV). Bab I menjelaskan latar belakang, perkembangan, dan makna dari kasus tersebut. Bab II menggabungkan beberapa tulisan dalam rubrik “Catatan Sepekan” di panturapost.com yang relevan dengan tema tersebut. Bab III merangkum "curhatan-curhatan" penulis di Facebook sejak lockdown di Tegal, yang berpusat pada kejadian-kejadian di Jalan Pancasila karena lokasi tempat tinggalnya. Seri lanjutan “Mati Ketawa ala Tegal” menampilkan isu-isu terkait revitalisasi kawasan alun-alun dan Jalan Ahmad Yani, termasuk dampak penutupan kawasan alun-alun dengan portal, pemasangan rambu-rambu larangan parkir di Jalan Pancasila, dan perubahan fungsi Jalan Ahmad Yani menjadi city-walk atau "Malioboro" versi Tegal. Bab V menutup dengan kesimpulan umum berdasarkan seluruh pembahasan. Buku ini juga mencakup dokumen-dokumen tertulis dan visual dari arsip Paguyuban Pedagang Kawasan Alun-Alun Tegal (P2KAT) sebagai pendukung, dan disertai lampiran yang memuat beberapa materi tambahan. --- di atas dirancang untuk memberikan gambaran umum tentang isi dan struktur buku, sesuai dengan konteks yang diberikan.
Unduh untuk perangkat lain: