Pemilihan Kepala Daerah Langsung (Pemilukada) idealnya menjadi pesta demokrasi yang meriah, inklusif, dan dipenuhi oleh partisipasi aktif serta antusiasme masyarakat untuk menentukan arah masa depan daerahnya. Namun, dalam realitas sosiopolitik kontemporer, tidak jarang momentum politik ini justru diwarnai oleh kelesuan publik, pragmatisme pemilu, hingga hilangnya greget perdebatan visi-misi yang substansial. Buku ini hadir merekam dinamika tersebut ke dalam serangkaian catatan esai kritis yang membedah perilaku politik masyarakat akar rumput di tanah Jawa.
Unduh untuk perangkat lain: