Beradaptasi dengan keterbatasan, tetapi tidak kalah aksi dengan siswa pada umumnya, itulah cerita tentang anak berlebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah negeri. Selain menceritakan kemauan yang kuat untuk maju dan kemampuan bersanding dengan teman sebaya, buku ini pun menyampaikan kemandirian mereka. Memiliki kepribadian tomboy yang piawai mengayun bola, membuatnya diterima dikalangan pencinta bola basket ekstra kurikuler di sekolah. Tidak bergantung pada orang tua yang seorang guru di sebuah SMK di Bekasi, Annisa biasa pergi dan pulang dengan menggunakan kendaraan umum. Belajar bahasa isyarat dari Annisa yang tuna rungu, membuat penulis belajar memahami bahwa kekurangan tidak membuatnya terbelenggu dalam beraktivitas di sekolah. Banyak bersyukur dan belajar dari siswa inklusi adalah hikmah tersendiri buat penulis.
Unduh untuk perangkat lain: