Buku "Hantu Digoel: Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial" karya Takashi Shiraishi mengungkap sisi gelap kekuasaan Belanda dalam membungkam pergerakan nasional Indonesia antara tahun 1926 hingga 1941. Shiraishi menjelaskan bagaimana pemerintah kolonial menggunakan kepolisian intelijen (ARD) untuk mengawasi setiap gerak-gerik aktivis dan menerapkan kebijakan pengasingan tanpa pengadilan bagi mereka yang dianggap radikal. Simbol utama dari represi ini adalah Boven Digoel, sebuah kamp pembuangan terisolasi di Papua yang sengaja diciptakan untuk memutus hubungan para tokoh pergerakan dengan rakyat. Buku ini menunjukkan bahwa politik pengamanan tersebut bukan sekadar untuk menjaga ketertiban, melainkan alat untuk menanamkan rasa takut yang mendalam bagi siapa pun yang berani melawan status quo kolonial.
Buku Buku ini membongkar sejarah gelap dan kompleks dari kamp tahanan politik Digoel, yang terletak di Pulau Papua, sebagai bagian dari kebijakan politik pengamanan yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda. Digoel, yang secara historis dikenal sebagai "kuburan" dan "hantu ganas" bagi para aktivis pergerakan nasional Indonesia, menjadi pusat penindasan terhadap para tokoh dan aktivis yang dianggap mengancam ketertiban dan keamanan Hindia Belanda. Dari tahun 1926 hingga awal 1940-an, Digoel menjadi tempat penahanan ribuan aktivis, termasuk tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan berbagai kelompok pergerakan lainnya. Buku ini menjelaskan bagaimana Digoel bukan hanya sekadar kamp tahanan, tetapi juga menjadi alat politik pengamanan yang efektif dalam upaya memadamkan gerakan kemerdekaan Indonesia. Selain itu, buku ini juga menyajikan kisah-kisah para tahanan Digoel, termasuk memoar Chalid Salim, yang menjadi sumber penting dalam memahami pengalaman hidup dan perjuangan para aktivis di bawah pemerintahan kolonial. Buku ini merupakan kajian sejarah yang mendalam mengenai peran Digoel dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia, serta bagaimana kebijakan politik pengamanan mempengaruhi jalannya perjuangan kemerdekaan.
Unduh untuk perangkat lain: