Buku ini mengeksplorasi bagaimana penampilan luar—mulai dari gaya busana, tren rambut, hingga penggunaan simbol tertentu—bukan sekadar masalah estetika atau pilihan pribadi semata. Melalui serangkaian esai kritis, buku ini menunjukkan bahwa penampilan adalah medan tempur identitas dan alat negosiasi kepentingan. Di Indonesia, perubahan gaya berpakaian sering kali mencerminkan pergeseran ideologi, status ekonomi, dan pengaruh globalisasi. Penulis dalam buku ini melacak bagaimana negara, pasar, dan kelompok agama berusaha "mendisiplinkan" tubuh warga negaranya melalui tren. Pembaca akan diajak melihat bagaimana sebuah gaya bisa menjadi simbol perlawanan, penanda kelas sosial, hingga alat propaganda politik. Secara tajam, buku terbitan LKiS ini membongkar mitos bahwa tren adalah sesuatu yang terjadi secara alami. Sebaliknya, ada kepentingan besar di baliknya yang ikut membentuk cara kita memandang diri sendiri dan orang lain.
Unduh untuk perangkat lain: