dalam bukunya, Abu Zayd hanyalah ”pembaca” tradisi. Dari titik tolak pertanyaan: bagaimana seharusnya memperlakukan warisan intelektual (tradisi)? Ia sering menamai hubungannya dengan tradisi sebagai ”pertemuan kritis” (al-ta’amul al’naqdy). Karena baginya, model hubungan seperti itulah yang melandasi vitalitas dan keterbukaan dunia intelektual Islam pada abad II dan III Hijriah dalam berinteraksi dengan kebudayaan ”lain”.
Unduh untuk perangkat lain: