Tak ada negara yang sempurna, juga tak ada individu yang sempurna sebagai warga negara. Hanya saja, jika permasalahan negara sudah telanjur banyak dan sulit diselesaikan, apakah kita mesti diam, bersikap tak acuh, dan berhenti mencoba menghadapinya? Sekiranya, pertanyaan itulah yang hendak dijawab oleh tulisan para peserta Akademi Literasi Jawa Barat 2019. Melalui program yang diselenggarakan Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, dengan misi kolaborasi bersama Bidang Pelayanan Perpustakaan Kearsipan (PPK) Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Barat dan Bitread Publishing. Mencoba menuturkan nalar-nalar bajik dalam sebuah buku yang mencerminkan pemikiran kolektif anak muda Indonesia, dengan judul Santuy Indonesiaku. Namun, mengapa harus menyematkan kata "Santuy", dalam judul buku yang bertujuan serius ini? Apakah layak menempatkan ragam bahasa tidak resmi untuk pembahasan yang berskala nasional? Adakalanya, kita mesti mencoba menempatkan diri sebagai kaum muda untuk dapat menerima, secara berani, kekeruhan kondisi di Indonesia. Tak seharusnya kita menempatkan jarak, antara yang tua dan muda, karena ketika berbicara tentang "masalah yang ada di Indonesia", semestinya hanya ada satu kesatuan. Dan kesatuan ini, dalam takaran kenyamanan anak muda akan baik-baik saja diaplikasikan dengan sikap rileks asalkan mampu mengurai segala yang kompleks. Jadi, "Santuy", yang merupakan akronim dari "Sebuah Antologi untuk yang Tersayang", mengemban maksud sederhana, bahwa tak ada salahnya menggunakan ungkapan-ungkapan canda, agar anak-anak muda dapat mencerna beragam polemik tanpa perlu menghardik.
Unduh untuk perangkat lain:
Jadilah yang pertama memberikan ulasan!
Bukunya bagus banget!
Lorem ipsum dolor, sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquam nulla iusto repellat qui, soluta laborum deserunt quis veritatis reprehenderit sint assumenda natus officiis! Nesciunt nisi eius rem dolor placeat consectetur.
Isinya daging semua cuy! Recomended.