Di halaman-halaman ini, "aku" tidak tampil sebagai hamba yang patuh.Ia rapuh. Ia marah. Ia kecewa. Ia iri pada mereka yang bisa hidup tanpa iman, namun juga takut hidup tanpa-Nya. Doanya tidak puitis, tidak sopan, bahkan kadang terdengar seperti gugatan. Tapi justru di situlah kejujurannya-paling telanjang, paling manusiawi, paling menyakitkan. Buku ini menelanjangi:hubungan yang tidak sehat dengan Tuhan, ibadah yang berubah menjadi kebiasaan kosong, kata "sabar" yang sering dipakai untuk menekan luka, dan kelelahan batin yang tidak pernah diberi ruang untuk jujur. Tidak ada janji sembuh total di sini. Tidak ada akhir manis yang tiba-tiba terang. Yang ada hanya satu keberanian kecil: "Aku tidak baik-baik saja. Dan inilah aku apa adanya." Buku ini bukan tentang menemukan Tuhan, karena Tuhan selalu ada. Ini tentang bertahan hidup di antara iman yang retak, doa yang hampir mati, dan harapan yang terus mencoba bernapas.
Unduh untuk perangkat lain: