Kopi bukan sekadar minuman; ia adalah budaya. Di Indonesia, secangkir kopi instan seringkali menjadi saksi lahirnya ide-ide besar di meja warkop hingga ruang kantor. Namun, di balik kenyamanan itu, tersisa selembar plastik berlapis aluminium yang selama ini kita abaikan. Kita menganggapnya "sampah", sesuatu yang tak lagi memiliki masa depan selain menumpuk di TPA atau mencemari lautan. Buku berjudul "Tas Belanja dari Sampah Plastik: Teknik Menganyam Bungkus Kopi" ini hadir untuk menantang cara pandang tersebut. Buku ini lahir dari sebuah keyakinan sederhana: bahwa dalam setiap helai limbah, terdapat potensi ekonomi yang luar biasa jika disentuh dengan kreativitas dan semangat kewirausahaan. Di tangan seorang pengusaha kreatif, bungkus kopi bukan lagi residu, melainkan "emas plastik". Ia memiliki durabilitas yang tangguh, estetika mosaik yang unik, dan yang terpenting, ia adalah bahan baku melimpah yang menunggu untuk diselamatkan. Buku ini bukan sekadar panduan teknis Do-It-Yourself (DIY) biasa. Ini adalah sebuah manifesto tentang bagaimana UMKM dapat berdiri di garis terdepan dalam menjaga kelestarian bumi sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Unduh untuk perangkat lain: