Tujuh tahun adalah waktu yang cukup untuk membuat seseorang akrab dengan kesunyian rumahnya sendiri. Di satu sudut kota, seorang dosen sastra hidup dalam keteraturan yang sepi: menyeduh kopi pahit, memutar kunci dua kali, dan diam-diam menuliskan perempuan yang sama dalam setiap naskahnya. Di sudut kota yang lain, perempuan itu mengajar kelas empat, pulang ke suami yang memperbaiki genteng sebelum ia sempat mengeluh, dan ke putri kecil yang menolak susu berkulit. Tidak ada yang salah dengan hidup mereka sekarang. Namun kota ini pandai menyimpan sesuatu. Setiap kali hujan turun, aroma karamel, sebuah lagu lama, atau kanopi hijau minimarket tua selalu punya cara membuka kembali pintu-pintu yang pernah dikunci rapat. Tujuh tahun lalu, di teras sebuah kos, satu pertanyaan diajukan dan tidak pernah dijawab: Kita ini sebenarnya mau ke mana? Lalu sebuah resepsi pernikahan mempertemukan mereka kembali, hanya selama beberapa detik. Sesudah Kita adalah novel kontemplatif tentang ingatan yang menolak padam, jawaban yang tak pernah terucap.
Unduh untuk perangkat lain: