Kelestarian alam tidak hanya ditentukan oleh luasnya kawasan yang dilindungi atau banyaknya aturan yang dibuat, tetapi juga oleh kemampuan manusia dan kelembagaan di dalamnya untuk bekerja bersama, belajar dari perubahan, dan mengambil keputusan yang menjaga keseimbangan antara kepentingan ekologis dan kehidupan masyarakat. Tata Kelola Hijau untuk Konservasi Berkelanjutan: Membangun Kelembagaan yang Adaptif dan Tangguh mengajak pembaca memahami bahwa konservasi bukan sekadar persoalan menjaga hutan, tanah, air, dan keanekaragaman hayati, melainkan juga tentang bagaimana tata kelola dibangun agar masyarakat, pemerintah, organisasi, dan berbagai pihak yang berkepentingan mampu menjalankan perannya secara bertanggung jawab. Buku ini menguraikan prinsip tata kelola hijau, partisipasi masyarakat, transparansi, akuntabilitas, kolaborasi, keadilan ekologis, serta pentingnya kelembagaan yang mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan dinamika sosial. Pembahasan kemudian bergerak pada bagaimana kapasitas kelembagaan diperkuat, bagaimana pengetahuan lokal dapat menjadi bagian dari praktik konservasi, bagaimana jaringan dan kemitraan dibangun, serta bagaimana inovasi dapat mendorong pengelolaan sumber daya alam yang lebih efektif dan berkelanjutan. Pengalaman dan hasil kegiatan penguatan kelembagaan turut dihadirkan secara menyatu dalam pembahasan untuk memperlihatkan bagaimana gagasan tata kelola hijau diterapkan dalam kehidupan nyata, bagaimana masyarakat terlibat dalam praktik konservasi, bagaimana kolaborasi berkembang, serta bagaimana perubahan dalam kapasitas dan praktik kelembagaan dapat mendukung kelestarian lingkungan. Dengan bahasa ilmiah yang komunikatif dan dekat dengan persoalan kehidupan masyarakat, buku ini tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa, dosen, peneliti, pemerhati lingkungan, dan pengelola konservasi, tetapi juga bagi masyarakat luas yang ingin memahami hubungan antara manusia, kelembagaan, dan keberlanjutan alam.
Unduh untuk perangkat lain: