Di hulu Sungai Kampar, dua puluh empat desa hidup di tepi salah satu hutan terpenting di Riau: Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Hutan ini menjadi rumah bagi Harimau Sumatera, Rafflesia, dan ratusan jenis satwa serta tumbuhan lainnya. Namun, bagi warga Kecamatan Kampar Kiri Hulu, kawasan yang sama juga menjadi batas yang tak kasatmata. Jalan tak kunjung tersambung, izin membangun sulit terbit, harga semen bisa dua kali lipat harga kota, dan anak-anak harus mengarungi sungai atau meninggalkan rumah demi melanjutkan sekolah. Buku ini mengisahkan kehidupan warga yang berada di dalam sebuah "sangkar", ruang yang melindungi alam tetapi sekaligus mengekang gerak orang-orang yang telah menghuninya jauh sebelum kawasan itu ditetapkan. Dengan memadukan cerita lapangan, data Indeks Desa Membangun, dan peta kawasan hutan, buku ini mengungkap sebuah ironi: hutan yang lestari membuat nilai lingkungan desa-desa ini nyaris sempurna, tetapi nilai ekonominya justru tertahan di dasar. Dari 24 desa, 23 desa tertahan di status Berkembang, dan Kampar Kiri Hulu menjadi satu-satunya kecamatan di Kabupaten Kampar tanpa satu pun desa Mandiri. Namun, buku ini bukan sekadar catatan tentang keterbatasan. Di dalamnya terekam pula daya lenting warga: membangun listrik secara swadaya, menanam kopi di bawah naungan pohon, mengelola wisata alam, berbagi beras di masa sulit, hingga merantau demi keluarga. Pada bagian akhir, buku ini menawarkan arah kebijakan dan model kerja sama lintas pihak agar menjaga hutan dan menyejahterakan warga dapat berjalan dalam satu tarikan napas. Buku ini ditujukan bagi pengambil kebijakan, pengelola kawasan konservasi, pemerintah desa, pegiat pemberdayaan masyarakat, akademisi, mahasiswa, dan siapa pun yang peduli pada masa depan desa-desa di tepi rimba.
Unduh untuk perangkat lain: