Pendidikan bukanlah sekadar rangkaian rutinitas transfer ilmu di dalam ruang kelas yang kaku, melainkan sebuah ikhtiar kebudayaan untuk memanusiawikan manusia (ngewongke wong) sekaligus merawat tatanan kebangsaan. Di tengah laju modernisasi, disrupsi teknologi, dan derasnya arus perubahan zaman, dunia pendidikan Indonesia kerap dihadapkan pada berbagai paradoks yang kompleks. Buku Mendidik Manusia, Merawat Bangsa hadir sebagai wujud rekaman pemikiran, catatan reflektif, autokritik, dan sumbangan gagasan otentik dari seorang pendidik yang telah mendedikasikan hidupnya selama lebih dari tiga dekade di garda depan persekolahan. Melalui kumpulan 25 artikel opini terpilih yang pernah dipublikasikan di berbagai media massa nasional dan daerah-seperti Kompas, Koran Sindo, Suara Merdeka, Solopos, Kedaulatan Rakyat, dan Tribun Jateng-F.X. Triyas Hadi Prihantoro menangkap riak-riak kegelisahan di ruang kelas dan merangkainya menjadi sebuah literasi pendidikan yang hidup. Dipicu oleh rasa keterusikan nurani atas ketimpangan sosial, ketidakadilan kebijakan, serta jeritan kaum lemah di bidang pendidikan, penulis tidak sekadar mengkritik, tetapi juga menawarkan arah baru yang berlandaskan moralitas, kesadaran, dan rasa cinta tanah air. Diterbitkan dalam momentum reflektif memperingati usia penulis yang menginjak 60 tahun sekaligus penanda purna tugasnya sebagai guru Pangudi Luhur, buku ini merangkum permenungan mendalam bahwa menulis adalah cara untuk merawat kepekaan, menyatakan keberadaan (Episto ergo sum), dan terus memantik diskusi konstruktif demi kemajuan peradaban bangsa.
Unduh untuk perangkat lain: