Bahkan setelah buku ini rampung, aku masih belum menemukan nama untuk hubungan dua insan tersebut. Labi-labi? Kedai mi? Televisi di jam tiga pagi? Tuan 29 lahir dari potongan-potongan hari yang tidak pernah benar-benar selesai. Dari pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawabannya. Dari rasa yang silih berganti, lalu memilih abadi dalam sebuah tulisan. Bukan tentang seseorang yang pernah dicintai, melainkan tentang perubahan cara seorang perempuan memandang sosok laki-laki yang sama. Melalui dua puluh satu prosa yang saling terhubung, buku ini menyusun kepingan-kepingan perjalanan batin tentang hubungan yang tidak pernah memiliki nama, kehilangan, penerimaan, dan luka yang tidak selalu selesai oleh maaf. Dengan simbol-simbol yang saling berkaitan, Tuan 29 mengajak pembaca menyusuri fase-fase kehidupan yang tidak selalu berakhir dengan jawaban.
Unduh untuk perangkat lain: