Buku ini mengajak pembaca menyelami mujahadah sebagai perjalanan batin untuk menundukkan hawa nafsu, menyucikan jiwa, dan membentuk akhlak mulia melalui cahaya Al-Qur''an. Dengan menyoroti QS. Al-Ankabut: 69, QS. An-Nisa: 95, QS. Al-Baqarah: 218, dan QS. Muhammad: 31, buku ini mempertemukan pemahaman Al-Qur''an dengan khazanah tasawuf akhlāqī, khususnya perspektif Al-Imam Al-Ghazālī sebagaimana ditampilkan dalam Tafsir Al-Imam Al-Ghazālī karya Muhammad Al-Raihani. Mujahadah tidak dipahami sekadar sebagai perjuangan lahiriah, tetapi sebagai proses mendidik dan menata jiwa agar manusia mampu mengendalikan hawa nafsu, mengatasi penyakit hati, serta menumbuhkan kesabaran, keikhlasan, tawakal, wara'', zuhud, dan keteguhan hati. Di tengah kehidupan modern yang diwarnai materialisme, hedonisme, individualisme, dan kegersangan spiritual, pesan mujahadah menjadi semakin relevan. Buku ini menunjukkan bahwa perjalanan spiritual bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan belajar menempatkan dunia secara proporsional dan menjadikannya sarana untuk menjalankan tanggung jawab kepada Allah dan sesama. Lebih dari sekadar kajian tentang ayat-ayat mujahadah, buku ini merupakan ajakan untuk melakukan perjalanan ke dalam diri: mengenali kelemahan, menundukkan ego, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan hati kepada Allah Swt. Sebab, memahami Al-Qur''an bukan hanya tentang mengetahui maknanya, tetapi juga membiarkan nilai-nilainya mengubah diri dan kehidupan.
Unduh untuk perangkat lain: