Desa adalah jantung Indonesia. Namun, selama puluhan tahun, detak jantung tersebut sering kali terhambat oleh tumpukan kertas yang menumpuk di gudang-gudang kantor desa. Arsip yang berdebu, kertas yang mulai menguning, dan waktu yang terbuang hanya untuk mencari selembar surat keterangan adalah realitas yang harus segera kita akhiri. Di sisi lain, para pelaku UMKM desa yang menjadi tulang punggung ekonomi kreatif sering kali kesulitan mengakses modal atau pasar hanya karena urusan administrasi yang tidak tertata rapi. Buku ini lahir dari sebuah keresahan sekaligus optimisme. Keresahan bahwa kemajuan teknologi sering kali dianggap hanya milik masyarakat kota besar, dan optimisme bahwa sebenarnya, setiap perangkat desa saat ini sudah memegang "alat pembebasan" di saku mereka: sebuah smartphone.
Unduh untuk perangkat lain: