Buku puisi ini lahir dari denyut pengalaman yang hidup, dari ruang-ruang pelatihan, perjalanan lintas kota dan kabupaten, hingga perjumpaan hangat dengan beragam wajah Indonesia. Terinspirasi dari kegiatan pengembangan moderasi beragama dan penanaman nilai ekoteologis, setiap bait dalam buku ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan rekam jejak perenungan, dialog, dan kegelisahan yang tumbuh menjadi kesadaran. Melalui puisi-puisi yang mengalir hangat, penulis mengajak pembaca menyelami realitas sosial yang beragam, di mana perbedaan keyakinan tidak menjadi jurang pemisah, melainkan jembatan untuk saling memahami. Moderasi beragama dihadirkan secara sederhana namun bermakna, sebagai sikap bijak dalam beragama: tidak ekstrem, tidak eksklusif, dan selalu mengedepankan kemaslahatan bersama. Kontrasnya, buku ini juga memotret kegelisahan penulis terhadap kondisi lingkungan yang kian tergerus seperti hutan yang hilang, laut yang tercemar, hingga perubahan wajah desa dan kota menjadi latar emosional yang kuat. Dari kegelisahan itu, lahirlah puisi-puisi yang menyuarakan ekoteologis sebagai kesadaran bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman dan merawat bumi adalah bentuk pengabdian spiritual. Tidak berhenti pada kritik, buku ini menawarkan harapan dengan gaya persuasif yang lembut namun menggugah, mengajak pembaca untuk bergerak dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Moderasi beragama dan ekoteologis pun tidak lagi menjadi konsep abstrak, tetapi menjelma dalam sikap dan tindakan sehari-hari, sebagai undangan untuk merawat perbedaan, menjaga bumi, dan menumbuhkan iman yang membumi demi terwujudnya harmoni antara manusia dan alam.
Unduh untuk perangkat lain: