Di era layar dan algoritma, batas antara yang nyata dan yang maya kian mengabur. Iman, yang seharusnya menjadi relasi batiniah paling murni antara hamba dan Penciptanya, kini dipaksa bernegosiasi dengan logika likes, views, dan engagement. Dakwah yang dahulu menggema di ruang-ruang khidmat masjid, kini bermigrasi ke platform digital, terjebak dalam arus hiperrealitas di mana simbol kesalehan sering kali hanya menjadi citra yang ditampilkan demi mengejar atensi. Buku ini hadir sebagai sebuah gugatan sekaligus pengingat mendalam: bahwa kebenaran tetaplah kebenaran meski tak pernah menjadi trending topic, dan keikhlasan harus tetap menjadi ruh utama dari setiap amal. Melalui pisau analisis filsafat kritis mulai dari simulakra Baudrillard, modal simbolik Bourdieu, hingga tindakan komunikatif Habermas penulis membedah fenomena "ulama algoritmik", komodifikasi kesalehan, hingga fetisisme visual keagamaan yang membuat kita sering kali lebih terhubung dengan layar daripada dengan Tuhan. "Karena Tuhan Tak Perlu Di Endorse" adalah manifesto bagi kaum intelektual Muslim untuk merebut kembali makna iman dari jebakan performa digital. Sebuah ajakan untuk pulang menuju spiritualitas yang autentik, dialogis, dan manusiawi di tengah kebisingan dunia yang serba instan.
Unduh untuk perangkat lain: