Novel ini mengisahkan perjalanan spiritual seorang petani sederhana bernama Bejo dari Desa Trombol, Kabupaten Sragen. Lahir di tengah keterbatasan ekonomi dan pendidikan, Bejo tumbuh dengan nilai-nilai ketekunan yang ia pelajari saat ngenger (mengabdi) di rumah Kyai Sonhaji demi menimba ilmu agama. Berkat kegigihan dan kesabarannya menabung selama bertahun-tahun dari hasil bertani, beternak, hingga berjualan sayuran, Bejo akhirnya mampu mendaftarkan diri dan istrinya, Suwarni, untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 2011. Narasi novel ini tidak hanya menyajikan kisah haru perjuangan seorang hamba menuju Baitullah, tetapi juga berfungsi sebagai panduan praktis "Manasik Haji" yang dikemas secara literer. Pembaca diajak mengikuti setiap tahapan birokrasi dan ibadah secara mendetail, mulai dari proses pendaftaran di kementrian agama dan pembayaran di bank, pemeriksaan kesehatan yang ketat (tes istitha''ah), hingga pelaksanaan bimbingan manasik di tingkat kecamatan dan kabupaten. Konflik muncul melalui kisah tokoh lain, seperti Pak Parto Jumeno yang dinyatakan tidak memenuhi syarat kesehatan (istitha''ah) karena penyakit ginjal, yang kemudian kursinya digantikan oleh anaknya, Kelik. Selama di tanah suci, pembaca disuguhi pengalaman nyata jamaah haji Indonesia: mulai dari tantangan cuaca ekstrem, penggunaan fasilitas bus shalawat, kehidupan di hotel zonasi Jarwal, hingga momen-momen puncak ibadah di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Unduh untuk perangkat lain: