Penanganan stunting bukan sekadar persoalan kesehatan, melainkan juga tantangan sosial yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Di Kabupaten Supiori, upaya pencegahan dan penanganan stunting perlu mempertimbangkan nilai-nilai budaya, peran lembaga keagamaan, serta kebijakan pemerintah yang saling melengkapi. Kolaborasi antarelemen tersebut menjadi penting untuk membangun kesadaran masyarakat dan menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Buku Ruang Ketiga dalam Tindakan: Sinergisitas antara Budaya, Gereja, dan Pemerintah Melawan Stunting di Kabupaten Supiori mengangkat pentingnya ruang kolaborasi yang mempertemukan budaya lokal, gereja, dan pemerintah dalam menghadapi persoalan stunting. Melalui pendekatan yang kontekstual, buku ini mengajak pembaca memahami bagaimana nilai-nilai budaya dapat menjadi landasan gerakan bersama, gereja berperan dalam membangun kesadaran dan solidaritas masyarakat, serta pemerintah menghadirkan dukungan kebijakan dan program yang berkelanjutan. Lebih dari sekadar menawarkan gagasan tentang kerja sama, buku ini menekankan pentingnya sinergi yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Keterlibatan tokoh adat, pemimpin gereja, pemerintah, keluarga, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun kepedulian terhadap kesehatan ibu dan anak. Pendekatan yang berakar pada kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat diharapkan mampu memperkuat partisipasi masyarakat serta mendorong upaya penanganan stunting yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Unduh untuk perangkat lain: