Sebuah sumpah sunyi di depan cermin mengubah jalan hidup Navy, seorang anak laki-laki dari pelosok Kabupaten Selatan. Tumbuh dalam keluarga yang bersahaja dengan keterbatasan ekonomi, Navy memendam mimpi besar untuk mengenakan seragam kebesaran khaki layaknya seorang Camat demi mengangkat harga diri ayahnya. Namun, ia harus bertahan dengan seragam sekolah pemberian ibu tiri, membagi sebutir telur matang menjadi tiga bagian, dan menelan debu serta asap knalpot motor saudaranya sendiri di curamnya Tanjakan H. Umar setiap hari. Prestasi sebagai peraih NEM Matematika tertinggi sempat memberinya tiket emas ke universitas impian, namun ketiadaan biaya memaksa Navy mengubur cita-cita tersebut. Kepedihannya bertambah saat harus menelan tangis perpisahan, melihat sahabat-sahabat karibnya melenggang kuliah ke sebuah universitas terkemuka di Kota Hujan. Pemandangan memilukan saat melihat ibunya memungut kayu bakar kemudian menjadi titik balik yang mengunci tekadnya. Ia membulatkan tekad baja mendaftar ke Sekolah Pamong Praja, kawah candradimuka dengan seleksi yang sangat ketat dan tak kenal kompromi. Di medan seleksi Kota Kembang, Navy bersaing dengan ribuan kandidat berfasilitas mewah. Kunci jawaban dari ujian akademis dan fisik yang menghancurkan mental peserta lain ternyata telah disiapkan Tuhan lewat rutinitas bangun subuh, himpitan boks telur, dan disiplin di atas meja kayunya yang sederhana. Lolos dari eliminasi Balairung, Navy merawat daya juangnya bersama Rendi dan Arya selama masa tempaan di Pusdik Militer dan Lembah Manglayang. Perjuangannya mencapai klimaks saat Navy dilantik dan dikukuhkan secara resmi sebagai Pamong Praja Muda langsung oleh Presiden Republik Indonesia. Tangis kebanggaan sang ayah pecah di tengah Lapang Parade, menjadi kado terindah yang mengangkat derajat keluarga. Skenario langit ternyata tak berhenti di sana. Kehausan Navy akan ilmu pengetahuan kembali menemukan jalannya saat negara memberinya kesempatan melanjutkan pendidikan pascasarjana. Bertahun-tahun usai pelantikannya, takdir membawa Navy bersinggungan kembali dengan masa lalunya. Di pelataran gedung wisuda salah satu kampus negeri di Kota Hujan, Navy yang kini mengenakan toga Magister (S2) bertemu dan berpelukan erat dengan sahabat remajanya, Eros, yang juga tengah merayakan kelulusannya dalam balutan toga Sarjana (S1). Ironi nasib yang manis ini menjadi epilog penutup yang sempurna, membuktikan telak bahwa garis start yang terhambat oleh keterbatasan masa lalu tidak pernah bisa mengalahkan doa orang tua dan kehendak Tuhan di garis finis.
Unduh untuk perangkat lain: