Budaya tidak pernah netral. Ia membentuk cara manusia memahami dunia, diri, dan nilai yang dianggap penting. Dalam modernitas, proses pembentukan makna itu semakin terikat pada logika industri-dari seni dan media massa hingga platform digital dan algoritma. Buku ini menelusuri perjalanan panjang industrialisasi budaya, dari kritik Mazhab Frankfurt tentang industri budaya hingga transformasinya dalam era globalisasi dan media digital. Namun, buku ini melangkah lebih jauh dengan mengajukan konsep industrialisasi makna: gagasan bahwa yang kini diproduksi secara massal bukan hanya karya budaya, melainkan makna itu sendiri-kesadaran, emosi, aspirasi, dan cara manusia memaknai realitas. Dalam dunia yang diatur oleh data, metrik atensi, dan algoritma, makna tidak lagi sekadar diciptakan, tetapi distandarkan, dikelola, dan dioptimalkan. Buku ini menawarkan kerangka kritis untuk memahami bagaimana budaya kontemporer membentuk pengalaman manusia-dari seni hingga algoritma-serta bagaimana kita dapat membaca kembali posisi kita di tengah arus produksi makna yang kian terindustrialisasi.
Unduh untuk perangkat lain: