Dua puluh enam tahun setelah berpisah sejak masa sekolah di Solo, Dimas dan Arini dipertemukan kembali oleh takdir yang tak pernah mereka duga. Dimas, seorang pejabat negara yang terbiasa hidup di tengah tekanan dan kesibukan, diam-diam menyimpan rasa yang tak pernah benar-benar hilang. Sementara itu, Arini, tenaga medis di Cirebon dan seorang ibu tunggal, memilih menjaga hatinya melalui doa, puasa, dan keteguhan iman setelah kehilangan suami tercinta. Pertemuan mereka bukan sekadar kisah cinta yang datang kembali, melainkan perjalanan dua jiwa yang sama-sama terluka dan belajar menemukan harapan baru. Di antara doa sepertiga malam, puasa Daud, humor-humor sederhana, dan kenangan masa lalu, tumbuh sebuah hubungan yang dibangun bukan hanya oleh perasaan, tetapi juga oleh kesabaran, ketulusan, dan kedekatan kepada Allah. Namun jalan menuju kebahagiaan tidak pernah benar-benar mudah. Dimas masih membawa bayang-bayang masa lalunya, sedangkan Arini harus meyakinkan dirinya bahwa membuka hati bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap kenangan yang pernah ia cintai. Di tengah pergulatan batin itu, lahirlah sebuah komitmen yang unik, hangat, dan tak terduga-bahwa cinta terkadang tidak dimulai dari kemewahan, melainkan dari hal-hal sederhana yang diikat oleh doa dan kesungguhan. Jika dua orang yang pernah saling mencintai dipertemukan kembali setelah dua puluh enam tahun, apakah itu benar-benar kebetulan? Ketika Dimas mempertaruhkan perasaannya melalui doa, sementara Arini justru memperkuat pertahanan hatinya dengan doa dan puasa Daud, siapa yang akan lebih dulu menyerah? Mungkinkah cinta yang pernah tertunda akhirnya menemukan jalannya, atau justru masa lalu kembali menjadi penghalang bagi dua hati yang sama-sama pernah terluka?
Unduh untuk perangkat lain: