Buku kategori sosial dan politik berjudul Kampanye Pemilu dalam Perspektif Antropologi Politik merupakan karya Wirdanengsih. Buku ini mengajak pembaca melihat kampanye bukan sekadar strategi memperoleh suara, melainkan sebagai fenomena sosial, budaya, dan politik yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Kampanye adalah arena tempat kekuasaan diperebutkan, identitas dinegosiasikan, jaringan sosial diaktifkan, simbol dimaknai, serta kepentingan berbagai kelompok dipertemukan dan dipertentangkan. Melalui perspektif antropologi politik, buku ini membahas hubungan antara kekuasaan, kandidat, pemilih, jaringan sosial, patronase, klientelisme, politik uang, budaya politik, identitas etnis, agama, kedaerahan, simbol, bahasa, dan ritual politik. Pembahasan juga memperlihatkan bagaimana kampanye hadir dalam ruang-ruang keseharian-keluarga, lingkungan masyarakat, desa, pasar, lapau, surau, komunitas, hingga ruang digital. Lebih jauh, buku ini menawarkan perspektif etnografi politik: memahami kampanye dari dekat, mendengarkan suara masyarakat, mengamati praktik politik, serta membaca makna yang tersembunyi di balik bahasa, simbol, tindakan, dan interaksi sehari-hari. Dengan pendekatan tersebut, pemilu dipahami bukan hanya sebagai peristiwa elektoral, tetapi sebagai proses sosial yang memperlihatkan bagaimana masyarakat memaknai kekuasaan, kepemimpinan, identitas, kepentingan, dan demokrasi. Buku ini relevan bagi mahasiswa, dosen, peneliti, penyelenggara pemilu, pemerhati demokrasi, praktisi politik, aktivis masyarakat sipil, serta siapa pun yang ingin memahami kampanye dan pemilu dari perspektif masyarakat. Kampanye bukan hanya tentang siapa yang berkampanye dan siapa yang dipilih, tetapi tentang bagaimana masyarakat memaknai kekuasaan, membangun hubungan sosial, menegosiasikan identitas, dan membentuk masa depan demokrasi.
Unduh untuk perangkat lain: