Buku ini menyajikan kajian komprehensif tentang transbahasa, istilah yang penulis usulkan sebagai padanan Indonesia untuk "translanguaging", dalam konteks pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL) di Indonesia. Dengan lebih dari 700 bahasa daerah yang masih aktif digunakan, buku ini berargumen bahwa keberagaman linguistik Indonesia adalah aset pedagogis, bukan hambatan. Bagian awal menelusuri evolusi konsep translanguaging dari akar pendidikan bilingual di Wales hingga reformulasi oleh Ofelia García dan Li Wei, sekaligus membedakannya secara mendalam dari code-switching. Bagian tengah memetakan hubungan hierarkis antara bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa daerah di kelas EFL, dengan kajian khusus pada lima bahasa daerah utama: Jawa, Sunda, Madura, Minangkabau, dan Bugis. Buku ini kemudian membahas tipe dan fungsi transbahasa yang terdokumentasi dalam penelitian empiris, disertai studi kasus kelas EFL Indonesia dan kerangka pedagogis Model Zona Transbahasa Tiga Lapis (3ZT) yang dapat diterapkan langsung oleh guru. Dimensi digital turut dibahas, termasuk peran kecerdasan buatan, aplikasi penerjemahan, dan media sosial dalam praktik multilingual, dengan pendekatan kritis dan reflektif terhadap teknologi. Sebagai penutup, buku ini mengulas batasan dan risiko implementasi transbahasa, termasuk ketidakseimbangan power antarbahasa dan risiko marginalisasi bahasa minoritas, serta menawarkan rekomendasi kebijakan dan agenda penelitian untuk praktik transbahasa yang bertanggung jawab dan kontekstual di Indonesia.
Unduh untuk perangkat lain: