Apa jadinya ketika sebuah gerakan besar perlahan kehilangan ruhnya sendiri? Ketika kritik dianggap ancaman, intelektualitas digantikan seremonial, dan kemajuan hanya diukur dari gedung serta aset?. Melalui kumpulan refleksi tajam dan penuh kegelisahan, buku ini membedah berbagai paradoks yang muncul di tubuh Muhammadiyah: politik transaksional, krisis keteladanan, lunturnya tradisi intelektual, hingga menjauhnya keberpihakan kepada kaum lemah. Dengan bahasa yang lugas dan berani, penulis mengajak pembaca melihat bahwa kemunduran sejati tidak selalu tampak dari luar, tetapi dimulai ketika nilai, moral, dan keberanian untuk berbenah mulai memudar. Anatomi Kemunduran bukan sekadar kritik, melainkan panggilan nurani untuk kembali meneguhkan ruh tajdid, semangat Al-Ma''un, dan cita-cita besar gerakan pencerahan. Sebuah buku reflektif yang akan menggugah siapa pun yang masih mencintai Muhammadiyah sebagai jalan pengabdian dan peradaban
Unduh untuk perangkat lain: