Di tengah dominasi agama-agama resmi dan derasnya arus modernitas, keberadaan kepercayaan leluhur kerap terpinggirkan dan disalahpahami. Gusti di Tanah Mataram mengajak pembaca menyelami realitas tersebut melalui penelusuran mendalam tentang penghayat kepercayaan di Yogyakarta-sebuah ruang budaya yang kaya akan warisan Mataram Islam. Berangkat dari kegelisahan intelektual penulis, buku ini menghadirkan kajian etnografis yang memperlihatkan bagaimana agama dan tradisi tidak selalu saling meniadakan, melainkan berdialog dan berkelindan dalam kehidupan masyarakat Jawa. Melalui konsep "penghayat beragama", buku ini menampilkan wajah keberagamaan yang cair dan kompleks: individu yang secara administratif memeluk agama resmi, namun secara batin tetap menjalani spiritualitas leluhur sebagai jalan hidup. Dengan fokus pada komunitas Hangudi Bawana Tata Lahir Batin, pembaca diajak memahami praktik spiritual yang asketis, monoteistik, dan berakar pada nilai-nilai kearifan lokal. Perspektif ini sekaligus menantang stigma yang selama ini melekat pada penghayat kepercayaan sebagai kelompok yang dianggap menyimpang atau tidak beragama. Lebih dari sekadar kajian spiritual, buku ini juga mengupas persoalan identitas, kewargaan, dan politik pengakuan di Indonesia. Dari sejarah diskriminasi hingga dinamika kebijakan negara, tergambar perjuangan panjang penghayat kepercayaan dalam memperoleh ruang yang setara. Dengan pendekatan interdisipliner yang memadukan sejarah, antropologi, dan teori sosial, Gusti di Tanah Mataram menjadi refleksi penting tentang keberagaman, sekaligus ajakan untuk membangun pemahaman yang lebih inklusif terhadap realitas spiritual dan budaya di Indonesia.
Unduh untuk perangkat lain: