Amin tumbuh sebagai anak yang merasa tidak memiliki masa depan. Di sekolah, ia dikenal lambat memahami pelajaran, sering diremehkan, dan tidak pernah merasa memiliki sesuatu yang istimewa. Hingga sebuah keputusan membawanya meninggalkan Lombok menuju sebuah pesantren di tanah Jawa. Di sana, Amin kembali berhadapan dengan kegagalan, rasa minder, kerinduan, dan perjuangan yang berkali-kali membuatnya ingin menyerah. Namun, dari tempat yang awalnya ia benci, Amin justru menemukan cahaya dalam hidupnya: Al-Qur''an, persahabatan, cinta, dan sebuah mimpi untuk menjadi penghafal Al-Qur''an sekaligus melihat Istanbul. Perjalanan menuju mimpi itu tidak mudah. Ada kehilangan, pengorbanan, dan luka yang harus ia lewati. Hingga bertahun-tahun kemudian, kesempatan menuju Istanbul akhirnya datang. Namun, Amin mulai menyadari bahwa mungkin perjalanan panjang itu bukan sekadar tentang mencapai sebuah kota, melainkan tentang menemukan cahaya, menerima takdir, dan memahami tujuan sebenarnya dari setiap langkah yang telah ia lalui. Jejak Cahaya di Langit Istanbul adalah kisah tentang perjuangan, Al-Qur''an, persahabatan, cinta, kehilangan, dan keyakinan bahwa tidak ada perjalanan yang sia-sia ketika seseorang memilih untuk terus melangkah.
Unduh untuk perangkat lain: