Buku kategori politik merupakan karya RUANG, POLITIK, DAN SUARA: Membaca Kota Kediri dengan Mata Setengah Tertutup merupakan karya Yusron. Membaca kota dengan mata terbuka lebar sering kali hanya memperlihatkan deretan angka statistik dan kemegahan fisik infrastruktur. Namun, ketika mata setengah tertutup, kita justru mulai mendengar suara-suara yang tersisih di balik dinamika ruang dan politik perkotaan. Kota Kediri bukanlah entitas mati yang sekadar dapat diukur dengan statistik atau digambar dengan garis-garis zonasi. Di sepanjang trotoar Jalan Dhoho yang diperebutkan, di los-los sunyi lantai dua Pasar Setono Betek, di bantaran Sungai Brantas yang sarat solidaritas, hingga di gang-gang sempit yang menjadi simpul kehidupan, kota ini terus-menerus ditulis ulang oleh mereka yang jarang masuk dalam narasi resmi. Buku ini merupakan perjalanan hermeneutik ke dalam jantung dinamika pembangunan. Meminjam pisau analisis para pemikir kritis-Lefebvre, Foucault, Rancière, dan Spivak-penulis membedah bagaimana rezim ketertiban, bahasa kebijakan, serta logika pasar membungkam suara kaum subaltern: pedagang kaki lima yang tergusur, juru parkir yang dikriminalisasi, pemilik toko kelontong yang gulung tikar, hingga warga bantaran yang terancam relokasi. Namun, karya ini bukanlah sebuah elegi. Di tengah tekanan struktural, penulis menemukan isyarat-isyarat kecil perlawanan-dalam kegigihan PKL yang kembali berjuang, solidaritas diam-diam di serambi tempat ibadah, serta kearifan lokal Memayu Hayuning Bawana yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan sesama. Lebih dari sekadar kritik, buku ini menawarkan peta jalan menuju peradaban kota yang maju secara fisik sekaligus adil dan bermartabat. Sebuah undangan untuk membaca kota dengan mata setengah tertutup: melihat apa yang sengaja dihilangkan dan mendengar apa yang selama ini dibungkam. "Kota yang baik bukanlah kota yang paling tertib secara visual, melainkan kota yang paling adil secara sosial."
Unduh untuk perangkat lain: