Satu kisah dalam Alkitab yang terus-menerus menghantui saya sepanjang penulisan buku ini adalah kisah dua murid di jalan menuju Emaus (Luk. 24:13-27). Bukan karena kisah itu asing, melainkan justru karena terlalu familier. Saya mengenal perasaan kedua murid itu: sudah dekat dengan Yesus, sudah mengikut, sudah berkomitmen, tetapi tiba-tiba kehilangan arah. Dan, solusi yang Yesus tawarkan sama sekali bukan apa yang kita bayangkan. Ia tidak menampakkan kemuliaan-Nya. Ia tidak memperlihatkan luka-luka-Nya. Ia membuka Kitab Suci. Mulai dari Musa. Mulai dari akar. Itulah yang menyembuhkan disorientasi mereka. Bagi saya, itu adalah pernyataan paling keras dari Yesus tentang apa yang sesungguhnya dibutuhkan gereja.
Unduh untuk perangkat lain: