Tidak banyak band mampu bertahan mengarungi perjalanan waktu, tetapi Metallica adalah salah satu pengecualiannya. Band yang satu ini berhasil mempertahankan eksistensinya di belantika musik selama beberapa dekade. Pun berhasil mempertahankan kualitas dan tidak terperosok pada komersialisasi pasar industri musik. Inilah yang menjadi salah satu kebanggaan para fans Metallica atas band pujaan mereka. Meskipun demikian, perjalanan Metallica tidak selalu mulus. Perselisihan intern para personel kerap terjadi. Memang, bukan sesuatu yang mengherankan jika hal ini terjadi. Menyatukan beberapa kepala dalam satu visi dan misi tentu bukan perkara mudah. Bongkar pasang para personel tidak dapat dihindari. Namun, sesuatu yang paling menggoncangkan adalah ketika Metallica ditinggal mati salah satu personelnya. Hampir saja band metal ini bubar seandainya tidak ada dukungan terusmenerus dialamatkan pada mereka. Kematian Cliff Burton telah menimbulkan luka mendalam pada teman-teman yang ditinggalkan. Untungnya, masa keterpurukan itu berhasil diatasi. Sejak kebangkitannya sampai sekarang, posisi mereka dalam genre musik metal tak tersaingi. Hal yang membanggakan sekaligus menyedihkan. Bagaimana pun kenyataannya, personel Metallica sudah semakin tua. Peluncuran album Death Magnetic, 2008, diiringi isu bahwa itu adalah album terakhir mereka. Kematian yang menjadi tema sentral lagu-lagunya seperti sebuah salam perpisahan. Namun, Lars Ulrich membantahnya. Toh, tema perpisahan tidak sekali itu digarap dalam penulisan lirik lagu-lagu mereka. Meskipun demikian, mereka membenarkan sangat siap untuk dilengserkan. Sebuah regenerasi sudah sepantasnya terjadi. Simak lebih jauh perjalanan karier dan pengakuan masingmasing para personel Metallica dalam buku ini.
Unduh untuk perangkat lain: