Sejarah selalu memunculkan sosok orang kuat yang lahir dari suatu kondisi sosial politik yang ada. Sosok orang kuat tersebut seakan muncul untuk memberikan jawaban dan pertolongan atas kondisi sosial politik yang menyengsengsarakan masyarakat. Sosok tersebut dianggap mampu menyelesaikan dan menjawab berbagai permasalahan di dalam kelompok tersebut. Penumpuan harapan dan solusi terhadap sosok tersebut inilah yang terkadang melahirkan pemujaan yang berlebihan. Pemujaan yang berlebihan-dengan menjadikannya pemimpin kelompok tersebut-tersebut mengarahkan pada otoritas dan kewenangan untuk mengatur. Pemimpin yang lahir dari situasi seperti ini mendapatkan otoritas untuk menentukan arah masyarakat, kebijakan, dan bahkan tak jarang melakukan tindakan sesuai kehendaknya. Tanpa kontrol demokratis dan kolektif dari rakyat yang tak memiliki otonomi dalam melihat masalah kehidupannya, ia tak jarang menjadi pemimpin yang tanpa kontrol dan melakukan tindakan yang sangat bertentangan dengan kepentingan umum. Soekarno lahir dari situasi yang demikian. Ia muncul sebagai sosok "hero" di tengah masyarakat yang terjajah, miskin, dan bodoh. Harapan yang besar akan perubahan nasib bangsa tertumpu padanya. Lantas, apakah situasi yang demikian membuatnya memimpin dengan otoriter dan diktator? Bagaimana dengan sistem Demokrasi Terpimpin yang diusungnya? Seberapa besar "dejarat" keotoritarianisme beliau? Simak dan kaji di dalam buku ini.
Unduh untuk perangkat lain: