Ada suatu anggapan yang mengemuka di kalangan masyarakat dewasa ini. Yakni, ranah agama mungkin berhasil dalam hubungan antara insan dengan Sang Sesembahannya, tetapi gagal dalam hubungan antara manusia dengan sesama pun alam sekitar pada ranah kehidupan sosial empiris. Pendapat macam tersebut, bukan sebuah lontaran asal-asalan tanpa alasan dan bukti. Tengok sebentar, narasi apa yang kerap dituturkan berita-berita di media, tayangan di televisi, dan yang terlihat atau dialami sendiri. Kerap kali tersaji pemberitaan dan pengalaman bahwa agama justru menjadi faktor pemicu keretakan hubungan bermasyarakat. Konflik antar-agama menjadi huru-hara dan kerusuhan yang sampai menelan korban, baik materi, psikis, maupun nyawa manusia. Orang-orang berlainan agama saling curiga dan berprasangka buruk. Bahkan, dalam intern sebuah agama pun, terjadi perselisihan yang satu sama lain saling mencela dan menghujat. Kondisi seperti ini tidak dapat dinafikan apalagi disembunyikan. Diakui atau tidak, memang yang demikianlah yang terjadi. Agama seakan menjelma "hanya" menjadi serangkaian aturan-aturan ritual atau malah dalam bahasa sarkastis, hanya formalitas untuk mengisi kartu identitas pengenal. Esensi dari sebuah agama sebagai pembawa kerahmatan di dunia pun akhirat menjadi angan-angan utopis dalam kitab suci yang semakin tidak dikenali. Sementara wajah yang diperlihatkan oleh agama mengguratkan sikap intoleran, angkuh, fundamentalisme, destruktif, agresif, fanatik, dan lain sebagainya. Anggapan dan kondisi memprihatinkan tersebut bukan guna memacu perdebatan apakah benar atau keliru, melainkan menjadi sebuah ajakan untuk kita renungi bersama. Apalagi kondisi demikian, melanda negeri Indonesia yang mengaku sebagai negara yang religius. Hal ini semakin menjadi ironi yang menyakitkan. Tentu saja tidak sekadar direnungi, tetapi yang lebih penting adalah kesadaran dalam melakukan perubahan. Oleh karena itu sudah saatnya kini kita menjadi agen-agen yang mengagas dan menggerakkan perubahan. Sebuah perubahan menuju tatanan berbangsa dan bernegara yang menjadi tujuan bersama, yakni keadilan, kemakmuran, kesejahteraan, dan kedamaian. Pendidikan bernapaskan keislaman yang terintegrasi dan berbasis pada problem sosial menjadi sebuah wacana yang menyuarakan perubahan. Islam adalah agama rahmatan lil alamin, sementara pendidikan adalah dasar dari peradaban manusia. Oleh karena itu mencanangkan wacana pendidikan Islam untuk memperbaiki bangsa-yang dikatakan dalam buku ini sedang sakit-bagaikan sedang menyuguhkan alternatif solusi dari akar terdalam menggunakan metode yang terbaik. Namun, gagasan dan wacana ini mesti dikembangkan lebih lanjut untuk kemudian sesegera mungkin diaplikasikan dalam praktik. Ini adalah tantangan besar bagi kita bersama.
Unduh untuk perangkat lain: