Satu lagi wacana tentang sistem pendidikan, yaitu pendidikan inklusif. Sistem pendidikan ini mengandaikan dan mengharuskan keterbukaan dalam kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun yang hendak menempuh program pendidikan di sekolah. Jika pada umumnya sekolah menetapkan sejumlah persyaratan tertentu, seperti batas nilai akademik kelulusan, bebas narkoba, sehat jasmani dan ruhani, atau terkait dengan nominal pembayaran maka sekolah inklusif meniadakan syarat-syarat tersebut. Peniadaan tersebut berpijak pada alasan bahwa pendidikan adalah hak asasi seluruh manusia, tanpa ada satu pun perkecualian. Namun dalam tataran praksis, tentu sistem pendidikan ini akan menemui banyak kendala. Salah satu kendala yang terbayangkan adalah bagaimana seorang guru dapat menangani satu kelas yang sangat heterogen: ada anak difabel, anak berkecerdasan rata-rata, anak ADHD, anak gifted, dan lain sebagainya. Satu perintah yang diucapkan guru, misalnya dalam proses pembelajaran, belum tentu akan diinterpretasikan secara sama oleh anak didik yang sangat heterogen tersebut. Namun, di sinilah tantangannya. Jika pendidikan inklusif mengandaikan sistem pembelajaran yang demikian, kelas akan menjadi sebuah miniatur dunia. Bukankah dalam kehidupan empiris keseharian, ditemui heterogenitas yang luar biasa. Ada manusia dengan kondisi gifted, biasa-biasa saja, difabel, tidak berkemampuan, bermasalah, dan lain sebagainya. Mengangkat wacana pendidikan inklusif adalah sesuatu yang sangat menarik dan melegakan. Maksud dari melegakan di sini adalah adanya bukti dari usaha dan kepedulian untuk memperbaiki sistem pendidikan untuk menjadi lebih baik lagi dengan pertimbanganpertimbangan nilai kemanusiaan. Anggapan yang berkembang selama ini adalah sistem penyelenggaraan pendidikan telah membuat diskriminasi dan marginalisasi antara mereka yang normal dengan yang berkebutuhan khusus. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah pembahasan tentang wacana orang-orang berkelainan, berkebutuhan khusus, atau difabel tidak kemudian malah akhirnya terperosok pada pelanggengan diskriminasi itu sendiri.
Unduh untuk perangkat lain: