Kenapa NUhammadiyah dan bukan MuhammadiyahNU? Secara historis NU memang yunior Muhammadiyah , namun kenapa posisi penulisan NU di depan seniornya? Secara retorik bisa dijawab: Nahdlatul Ulama rela mengakronimkan dirinya menjadi NU, dan U-nya pun menjadi milik dua organisasi itu dalam gabungan NUhammadiyah. Yang pasti, modifikasi bahasa itu bukan sejenis anakronisme, melainkan semata niat menimbang efesiensi, estetika, atau rasa bahasa. Kenapa nasionalisme? Muhammadiyah merupakan organisasi sosial-keagamaan yang lebih "senior" dari NU dan kedua organisasi ini sama-sama lahir sebelum berdirinya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Keduanya terlibat perjuangan membentuk NKRI melalui cara masing-masing. Sebagai organisasi yang mewadahi kalangan Islam, keduanya berkonsekuensi menjadi salah satu penentu penting dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini lantaran mayoritas penduduk negeri ini beragama Islam. Dan, salah satu hal terpenting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah nasionalisme. Nasionalisme menjadi bagian strategis menjaga eksistensi NKRI. Terkait itu, NU dan Muhammadiyah sama-sama mengenal ajaran: "Bela bangsa sebagian dari iman". Bagaimana kalangan NU dan Muhammadiyah generasi terkini melihat nasionalisme? Pertanyaan ini memantik angan membuat buku bunga rampai para penulis NU dan Muhammadiyah: NUhammadiyah Bicara Nasionalisme. Bentuk, gaya, dan panjang tulisan dibebaskan. Yang terpenting muatan tulisan ihwal nasionalisme/praktik bernegara terkait dengan pengalaman masing-masing organisasi dan/atau sebagai pribadi yang bertradisi NU/Muhammadiyah, baik konteks masa lalu, masa kini, maupun terawangan ke masa depan.
Unduh untuk perangkat lain: