Dalam ruang sosial yang terus berubah dan ditandai oleh kompleksitas identitas budaya, agama, dan kelas sosial, pendidikan tidak bisa hanya dipahami sebagai proses transfer pengetahuan semata. Ia harus hadir sebagai ruang dialog, pemulihan, dan pemberdayaan. Buku ini mencoba menghadirkan wajah pendidikan yang lebih manusiawi, yang tidak buta terhadap realitas anak-anak jalanan, tidak abai terhadap perjuangan para guru di era digital, dan tidak kaku dalam merespons dinamika kebera gaman keyakinan serta budaya lokal. Setiap bab dalam buku ini lahir dari semangat untuk merawat kema nusiaan dalam kemajemukan. Narasi tentang kehidupan anak jalanan perempuan di Ambon, upaya guru-guru Pendidikan Agama Kristen dalam literasi digital, praktik moderasi beragama, hingga kisah-kisah kerukunan antarumat di Tial maupun Kroing, semua disusun dengan bahasa yang iii lebih membumi dan terbuka agar dapat dijangkau oleh pembaca lintas latar belakang.
Unduh untuk perangkat lain: