Islam itu sangat luas cakupannya meliputi seluruh aspek kehidupan kita. Belajar tentangnya tidak boleh berhenti pada satu titik. Tidak boleh ada anggapan bahwa jika sudah sampai pada mustawa (level) tertentu tidak lagi mendapatkan materi pengajaran tentang Islam. Agar pemahaman (al fahmu) kita terhadap Islam semakin utuh sebenarnya tidak cukup belajar Islam dari seorang guru, apalagi kepada guru yang juga masih belajar. Apalagi waktu belajar hanya sepekan sekali. Itupun hanya bebarapa jam. Proses belajar dan mengajar tidak boleh berhenti. Karena seperti itulah karakteristik masyarakat Madani yang Robbani. Firman Allah, "Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (QS, Ali Imron: 79). Maksudnya adalah agar tidak terjadi penyimpangan akan pemahaman keagamaan, proses belajar dan mengajar tidak boleh putus. Yang terjadi sebenarnya banyak sekali literatur Islam yang belum kita baca dan pelajari, tetapi kita sudah sembarangan "berfatwa" di tengah masyarakat, apalagi masalah yang fundamental.
Unduh untuk perangkat lain: